Total Pageviews

Wednesday, September 28, 2016

JANGER BANYUWANGI: DARI DRAMA TRADISIONAL HINGGA DRAMA BERDENDANG.

JANGER adalah sebuah Drama Tradisional yang hidup dan berkembang di Kabupaten Banyuwangi hingga sekarang. Konon Janger ini adalah bentuk adaptasi dari Langendriyan yang dikembangkan Penguasan Mataram saat menguasai Blambangan. Bentuknya sangat unit, karena penampilan pisik dan musiknya seperti Drama Gong Bali. Termasuk dengan tarian pembukanya. Namun dalam antara wacana (dialog) mengunakan Bahasa Jawa layaknya Ketoprak.

Monday, November 28, 2011

MENCATAT SEJARAH MELALUI GENDING BANYUWANGI

Sosok BS Noerdian, sudah tidak asing lagi bagi penggemar Lagu-Lagu Daerah Banyuwangi. Selain karyanya cukup banyak, juga kiprahnya terhadap kesenian Daerah Banyuwangi dimulai sejak masih sekolah menengah pertama. Dari sejumlah lagu daerah Banyuwangi yang populer, banyak juga diantaranya karya BS Noerdian.

BS Noerdian lahir tanggal 5 Januari 1934 di Banyuwangi, dengan nama Basyir anak dari Mohammad Noer Sadan. Bakat keseniannya diakui berasal dari kakeknya (orang tua dari Ibu) yang bernama Mad Dardji almarhum. Sang Kakek yang orang Kelembon, Kota Banyuwangi, dikenal sebagai pendiri Kesenian Damarulan atau Janger (Drama Tradisional Banyuwangi). Saat usia memasuki SMP, Basyir kecil sudah akrab dengan kesenian tradisional. Bahkan aktivitas kakeknya dimulai sejak tahun 1920-an, setelah itu juga muncul kesenian Angklung atau Balin-Balian (Tabuhan Bali).

Saturday, March 12, 2011

MENAK JINGGO: MELAWAN MITOS DENGAN MITOS BARU

Pengertian mitos atau mite menurut JS Badudu (1986:45) adalah dengeng atau cerita tentang dewa-dewa atau pahlawan-pahlawan yang dipuja-puja. Keberadaan tokoh mitos, seperti diuraikan pakar Folklor, James Danandjaja,  meski sebagai pribadi pahlawan-pahlawan mitos itu tokoh sejarah, namun riwayat hidupnya yang kita kenal dalam mite, bukan sejarah itu sendiri. Riwayat itu tidak diambilkan dari pribadi asli tokoh sejarah, melainkan diambil dari riwayat tradisional yang masuk dalam folklore (1984:60).

Tuesday, March 1, 2011

KAMPUNG SENI WATUDODOL KAPAN DIREALISASI?I

Gapura Kejut saat memasuki kawasan Watododol Banyuwangi, salah satune ide dari Bupati Banyuwangi kala itu, Samsul Hadi. Bahkan Samsul yang aseli kelahiran Banyuwangi dan kebetulan dari etnis Using, ingin melengkapi kawasan Watudodol saat itu, dengan membangun Kampung Seniman (Antogan Seni) di Bukit seberang Pantai Watudodol. Sejumlah prasarana sudah disiapkan saat itu, namun sebelum gagasan itu dilaksanakan, Samsul keburu habis masa jabatan, serta masuk bui karena terlibat kasus korupsi.

Monday, February 28, 2011

ANDANG CY, GURU PENGARANG SYAIR LAGU USING

Terlahir dengan nama Andang Chotif Yusuf, pada tanggal 19 Sepetember 1934 di Banyuwangi. Orang tuanya bernama Subandar, sedangkan nama Yusuf di belakang namanya diambil dari nama orang tua angkat yang membesarkannya, yaitu Safi’I Yusuf. Pendidikan terakhir yang pernah ditempuh adalah Sekolah Guru B, pada tahun 1953 di Bondowoso. Waktu masih sekolah Guru, Andang sudah aktif terlibat dalam kegiatan kesenian, antara lain menyutradarai pementasan Drama berjudul Emas Disangka Loyan.

SIMBOL “ULAR KEPALA GATOTKACA” DAN SALAH TAFSIR

Wacana akan mengganti simbol “Ular Kepala Gatotkaca” oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, sempat memanaskan telinga Budayawan Banyuwangi, serta rakyat Banyuwangi yang tahu persis simbol itu sudah bertengger di Ancak Angklung Caruk sejak kesenian itu ada. Latar belakang penggantian itu, ternyata akibat ketidaktahuan sang Bupati atas makna simbol yang banyak ditemui di Pemkab Banyuwangi dan sejumlah Prasasti itu.  Menurut Bupati Anas, ia tidak ingin simbol itu membelenggu rakyat Banyuwangi, karena sifatnya dianggap seperti “ular” (ngulo). Mereka hanya menganggap “Ular Berkepala Manusia” bukan "Ular berkepala Gatotkaca" makanya artinyapun menyimpang dari arti sebenarnya.

Tuesday, February 22, 2011

MASIH MENEMUKAN ‘MULUDAN’ DAN ‘ENDOG-ENDOGAN’


Saya berniat pulang kampung dengan kedua anakku tanggal 15 Pebruari 2011 lalu,  hanya satu keinginan:  menujukkan kepada kedua anakku tradisi “muludan” dan “endog-endogan” yang dulu pernah dijalani dan dirasakan Bapak-nya. Serta ingin mengetahui secara langsung, seberapa jauh perubahan tradisi itu dibanding 20 tahun lalu, saat aku dan adik-adiku masih tinggal bersama orang tua. Namun yang jelas, atmosfirnya sangat lain, karena banyak hiburan instan yang sudah masuk ke pelosok pedesaan. Meski kedua anakku sempat senang sebentar, namun mereka syik dan sibuk dengan VCD, Game dan film-film kartun kesangannya.