Total Pageviews

Sunday, February 20, 2011

ANGKLUNG CARUK, CONTOH BERPACU HIDUP SPORTIF

                                                    Kata "Caruk" alam bahasa Using berarti "temu". Kata dasar itu bisa diucapkan "Kecaruk" atau "Bertemu". Nah , Kata "Angklung Caruk"  artinya adalah dua kelompok kesenian angklung yang dipertemukan dalam satu panggung, saling beradu kepandaian memainkan alat musik berlaras pelog itu, dengan iringan sejumlah tembang Banyuwangian. Meski tidak ada aturan secara tertulis, kedua kelompok kesenian itu sejak puluhan tahun sudah memahi aturan yang menjadi kesepakatan. Sehingga, mereka tidak ada yang curang, tidak ada yang marah, saat kurang mendapatkan respon atau aplaus dari penonton.

Tradisi Angklung Caruk adalah gambaran betapa tingginya apresiasi warga Banyuwangi terhadap musik daerahnya. Tradisi ini ada, jauh sebelum acara BERPACU DALAM MELODI TVRI yang diasuh Kus Hendratmo ditayangkan secara nasional. Betapa tidak, dalam angklung caruk itu, pertama setiap kelompok masing-masing membawakan "larasan" yang menjadi andalan dengan seorang penari pria yang disebut BADUT. Setelah selesai dan sesuai kesepakatan waktunya, maka giliran kelompok lain melakukan hal yang sama.


Pada sesi berikutnyan adalah Adol Gending, yaitu kelompok A misalnya, membawa intrumen beberapa ketukan dari sebuah lagu, untuk ditebak kelompok B. Apabila kelompok B sudah tahu, maka diberi kesempatan memotong dengan cara "ngosek" atau memukul gamelan secara tidak beraturan. Jika itu sudah terjadi, maka kelompok A harus menghentikan intrumennya dan memberikan kesempatan kepada kelompok B untuk meneruskan intrumen itu. Jika ternyata masih salah, maka kelompok A akan mengambil kembali dengan "ngosek" kemudian meneruskan hingga tuntas. Ini juga berlaku kepada badut, mereka juga diadu variasi tariannya dengan lagu-lagu andalan yang dimiliki kelompok. Dalam tempo cepat, baik tarian maupun pukulan instrumennya tidak boleh ada yang salah.

Itulah gambaran sedikit tentang Angklung Caruk Banyuwangi yang penuh sportivitas. Selain masing-masing membawa sporter, tapi ada penonton netral yang siap memberikan aplus jika memang penampilan kelompok itu bagus dan memukai. Namun bagi mereka yang kurang beruntung, caci makian dan ejekan penonotn tetap diterimanya, sebagai pemicu agar terus melakukan latihan dan meninkatkan insting bermusiknya.

Namun sejak masuknya orang-orang Non Using yang ikut menonton dan menjadi sporter, suasan itu menjadi berubaha. Mereka marah dan mengeluarkan senjata ketika kelompok kesenian yang didukungnya ternyata berpenampilan jelek. Bahkan ada juga yang sempat terjadi pembunuhan di arena pemerntasan Angklung Caruk. Anehnya, aparat keamanan menyimpulkan serampang, dengan menyatakan kesenian Angklung Caruk sebagai biang dari tindak kriminal itu. Sehingga sejumlah daerah dan dekade tertentu, Angklung Caruk sempat "DILARANG" dengan alasan tersebut.

Nah, pada saat ini apakah masyarakat kita (WONG BANYUWANGI KABEH) siap bersikap sportif seperti nenek moyang kita dalam berkesenian dan berkehidupan sosoail  ...???

Dulu di Banyuwangi ada kelompok Angklung yang terkenal, yaitu Angklung Pasina; Alasmalang, Singojuruh, Anglnglung Mangir, Rogojampi dan Angklung Badas, juga Rogojampi. Apabila kedua kelompok Angklung itu dipertemukan dalam satu panggung, bisa dipastikan penontonnya membludak. Mereka kebanyakan penonton netral, tidak mewakili kelompok manapun. Namun mereka akan memberikan aplaus, apabila penampilan salah satu dari mereka yang terlibat "caruk" itu memang bagus. Cacian dan "pisuhan" khas Banyuwangi, meluncur untuk mengontari penampilan dari peserta "caruk" yang tidak maksimal atau sering melakukan kesalahan. Namun tidak ada yang marah, apalagi bereaksi berlebihan.

Semangat "caruk" dalam kehidupan sehari-hari, seharusnya menjadi contoh bagi Wong Using kebanyakan. Selalu mempersiapkan segala sesuatu, seperti layaknya para "panjak" angklung yang  latihan setiap hari, menjelang pentas "caruk". Sehingga, saat berlaga di panggung tidak akan mengecewakan. Jika itu semua sudah dilakukan maksimal, maka harus menerima apapun hasilnya. Cacian atau "gojlokan" penonton, bukan sebagai hinaan. Melainkan sebagai cambuk, agar usaha dan persiapan dilakukan lebih baik lagi. Kita juga harus menerima kenyataan, jika lawan caruk (orang lain) ternyata lebih unggul dan patut mendapatkan pernghargaan. Sakit hati dan iri terhadap kelebihan yang dimilki orang lain, bukan sikap orang Using. Bersaing boleh, tetapi harus dilakukan secara sportif. Sepeti sikap para Panjak, Badut dan penonton Angklung Caruk pada waktu mereka tampil. (Tentu bukan penampilan penampilan Angklung Caruk yang terjadi angkir-akhir ini, banyak penonton mabuk dan mudah tersinggung atas gojlokan penonton lain).

No comments:

Post a Comment