Total Pageviews

Sunday, February 20, 2011

SASTRA USING BANGKIT DARI KETERPURUKAN (3)

Setelah terjepak dalam propaganda politik, para seniman, penyair dan pengarang lagu bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, mencoba bangkit mengembangkan kesenian dan kesusatraan Using.  Pengembangan ini, bukan saja semata-mata membuang yang lama. Namun lebih konstruktif, mengembangkan dasar-dasar lama untuk disesuikan dengan kebutuhan jaman. Upaya ini tidak mudak, karena pandangan orang (termasuk pemerintah saat itu), tentang syair lagu daerah Bahasa Using yang kekiri-kirian masih sulit dihapus.


Dampak kepopuleran lagu “Genjer-Genjer” memang masih terasa sepuluh tahun kemuudian. Bahkan setelah “Genjer-genjer” masuk dapur rekaman  yang dibawan artis serba bisa Bing Selamet pada tahun 1950-an, tiba-tiba lagu ini sangat terkenal dan populer di Indonesia. Kedanti Bing Slamet bukan orang Using, namun saat menyanyikan lagu “Genjer-genjer” dalam piringan hitam itu, tetap menggunakan Bahasa Using. Dibanding Lilis Suryani yang membawakan lagu yang sama di tahun berikutnya, pelafalkan aksen Using lebih terasa yang dibawak Bing Slamet. Hanya instrumen pengiring yang berbeda, yaitu intrumen musik pop. Tidak berlebihan, jika pakar Foklor James Danadjaya (1991: 145) menyatakan, perubahan instrumen pengiring itu, hampir menjerumuskan “Genjer-Genjer” dari lagu rakyat menjadi lagu pop.

Langkah M. Arif dalam membuat syair lagu daerah hingga terkenal, ternyata memacu teman-teman seangkatannya, seperti Indro Wilis (B. Elman), Machfud Hariyanto dan lain-lainnya. Pada massa ini, penciptaan lagu daerah Banyuwangi, sudah dilengkapti dengan notasi sebagai lagu-lagu modern. Kendati demikian, semangat dan tekan para seniman ini tetap mengangkat budaya tradisional. Hasil karya yang menonol adalah Ulan Andung-Andung, karya Indro Wilis.

ULAN ANDUNG-ANDUNG

Ulan andung-andung
Yoro metuo saben ulan saben tahun
Sunare Condro Dewi, alak emas
Kepilu padang mendem gadung bakalan wurung


Ulan andung-andung ono padang ono mendung, alak emas
Tangise wong lanang hang keduhung
Yong-yong kelopo doyong, awak kulo keloyong-loyong


Ulan andung-andung
Wayah subuh surupo ring pucuke gunung
Age-age temuruno, alak emas
Uncalono kulo temiblak ring kembang kenongo
Nora nyono isuk ono bengi ono, alak emas
Lencinge bagus yoro isemono
Basane nyipak nyandung, ra weruho bakalan wurung

Syair lagu itu diciptakan sekitar tahun 1964, saat pengarang menjadi tahanan politik di Malang. Draf syair lagu itu dikirim ke adiknya, BS Noerdian. Kemudian bersama Andang CY diperbaiki di sana-sini, tetapi tidak mengubah isi. Saat dipopulerkan pertama kali, juga masih menggunakan nama Andang CY dan BS Noerdian sebagai nama pencipta, agar tidak dicurigai atau dilarang oleh penguasa saat itu. Kemudian, setelah sang pengarang bebas dari tahanan, lagu Ulan Andung-Andung itupun mencantyumkan nama pengarang aslinya Indro Wilis.

Instrumen pengiring lagu-lagu daerah Banyuwangi setelah kemerdekaan, tidak terbatas pada musik tradisional Banyuwangi. Namun berkembang ke instrumen modern seperti Keroncong, karena pada saat itu secara nasional musik Keroncong sedang menjadi trend dan disenangi masyarakat. Masuknya syair lagu Berbahasa Using ke dalam musik Keroncong, emmungkinkan lagu Daerah Banyuwangi dan Bahasa Usingnya akan melekat di hati para penikmat musik keroncong. Lagu yang terkenal saat itu,  Nandur Jagung; Adong-Adong (M. Arief); Lintang Kemukus, Kembang Mawar Kembang Melati (Machfud Hr.). Bahkan lagu keroncong berbahasa Using, sampai terkenang di luar Banyuwangi, terutama di kalangan penikmat musik Keroncong.

Upaya bangkit dari keterpurukan, tidak semudah yang diharapkan. Masih saja terjadi benturan-benturan kecil, menyangkut syiar lagu yang diciptakan pengarang yang pernah terlibat dalam kancah politik. Tidak saja antara aparat keamanan (Baca: Kodim setempat), tetapi bisa juga antar seniman sendiri yang dulu pandangan politiknya berbeda. Jumlah lagu-lagu yang dilarang, karena pengarangnya pernah terlibat partai terlarang sudah tidak terhitung. Namun yang lolos karena kepiawaian dari pengarang dalam pengemas ide-idenya, juga tidak sedikit.

Rembug seniman dan Budayawan yang diprakarsai Dinas Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Banyuwangi saat itu, juga sering digelar. Salah satu upaya untuk menangkal faham proletar (ini penilaian sepihak versi aparat saat itu), maka dilakukan rekaman Lagu Daerah Banyuwangi Ulan Andung-Andung dalam bentuk piringan hitam. Terpiliha sebagai artis yang membawakan lagu itu adalah Emelia Contessa. Artis asli Banyuwangi, penutur Bahasa Using yang juga sekitar tahun 1960-an, namany sedang naik daun secara nasional.

Namun kepopuleran Emilia Contessa, belum bisa menandangi seniornya Bing Slamet. Lagu “Genjer-Genjer” tetap melegenda, kendati sudah disusul lagu Daerah Banyuwangi sebagai update. Keinginan Seniman, Budayawan dan Pemkab Banyuwangi saat itu, bahwa lagu daerah Banyuwangi tidak hanya Genjer-Genjer, tetapi masih banyak lagi termasuk Ulan Andung-Andung. Sebetulnya, upaya ini tidak seratus persen gagal . Terlihat, lagu Ulan Andung-Andung sering juga dikomadangkan Waranggono Wayang Kulit di kawasan Mataraman Jawa Timur, juga Jawa Tengah. Mungkin momentumnya saja yang kurang pas, karena saat Genjer-Genjer dipopulerkan pergolakan politik sedang memuncak. Sadar atau tidak, telah mendongkrak lagu itu sendiri.

Setelah dua kali masuk rekaman piringan hitam, gairah berkesenian di Banyuwangi mulai marak. Meski tetap harus waspada dan hati-hati, jika sudah merembet ke ranah politik. Saling curiga satu sama lain, masih membalut kehidupan para seniman dan pengarang yang awalnya diindikasikan terlibat dalam kancah politi, Sehingga apapun karya yang dihasilkan, selalu dihubung-hubungkan dengan kegiatan propaganda. Adalah Hasan Ali, pejabat Pemkab Banyuwangi dari bagian Kesra, yang berulang kali meyakinkan aparat keamanan, jika mereka yang direkomendasikan itu sudah tidak lagi melakukan kegiatan politik. Hasan Ali yang juga mantan ketua Lembaga Keseneina Nasional (LKN) Cabang Banyuwangi, bisa menerima teman-temannya yang berhaluan politik berbeda. Mereka sudah sepekat, melupakan pertikaan politik, bersama-sama memajukan darah Banyuwangi dengan kesenian dan tradisi yang khas. (BERSAMBUNG)

No comments:

Post a Comment