
Meski Pemkab Banyuwangi saat bersamaan menggelar Pawai Kembang Telor (Pawai Endog-Endogan), tetapi saya tidak tretarik sama sekali. Mengingat tradisi arak-arakan “Endog-endogan”, saat baku kecil tidak populer. Apalagi dengan atribut kesenian-kesenian lain di luar yang bernuasa Islam, seperti Terbangan dan Kuntulan. Saya memang sengaja membiarkan anak-anaku bermain dengan saudara-saudaranya yang seumuran, untuk bermain dan berlari-lari sambil membawa “endog-endogan”. Ini ternyata masih ada, kendati tidak sekental dulu.
Suasana dapur orang-orang Using yang akan menyongsung “Muludan” masih tidak banyak beruba, karena persiapan-persiapan justru diawali dari dapur. Aktivitas orang-orang membawa ayam yang akan disembelih, atau beberapa diantaranya sibu menentang “kembang endog” yang belum diisi. Serta yang tidak kalah ramaianya suasana “pembantaian ayam” di belakang rumah “tukang jagal”. Wah, benar rame dan sibuk desa-desa yang akan Muludan.

Sementara proses masak ikan, tetap dilakukan maksimal sehari sebelum hari-H. Tidak heran, suasan dapur saat itu benar-benar krudit, dengan asap yang memenuhi ruangan. Namun ada juga dapur modern dengan kompor gas, uapnya tidak sampai membuat mata perih. Aroma masakan dari dapur hampir seragam, karena masakannya kebanyakan sama: Kari Ayam, Bali Ayam dan Telor, Ragi Rujak Ayam (Asem-asem), Kering Galih (Sambel Goreng Ati) dan sebagainya.
Nah, saat Ibu-ibu dan kaum hawa sibuk di dapur, Anak-anak mereka bermain di halama rumah dan lari-lari di jalan kampung dengan membawa “Endog-Endogan”. Tradisi “Endog-Endogan” menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW ini, hingga sekarang masih dalam perdebatan (bukan dipertengtangkan, tetapi mecari akar sumbernya), untuk menterjemhakan simbol-simbol dalam tradisi itu. Selain melakukan wawancara dengan orang-orang tua, juga sebagian sudah mencoba dengan membuka literatur-literatur.
Bentuk “Kembang Endog” yang paling dasar sebelum dimodifikasi, yaitu berupa pohon dari batang bambu, dibelah sisi kiri dan kana dibuat ranting, kemudian ada pembatas per kecil yang menghubung bunga mahkota berupa bunga mawar. Sebelum ada kertas macam-macam seperti sekarang, dulu hanya menggunakan kertas minyak (Deluwang) dengan warna terbatas, putih, kuning, merah dan hijau. Namun sekarang sangat banyak, serta lebih kinclong warnanya.

Kalau ingat itu, saya sempat prihatin saat mengetahui “endog-endogan” dimofikasi secara bebas tanpa mempelajari simbol dan ajaran yang dikandungnya. Ada yang membuat “Kembang Endong” dalam bentuk “Barong”, Rumah-rumahan” Masjid dan lain sebagianya. Kondisi ini apabila tidak diingatkan bisa menjadi liar, serta mengaburkan subtansi dari makna “endog-endogan” itu sendiri. Alhamdulillah, saat saya kemarin melihat “muludan’ ternyata “kembang mawar” mulai mekar kembali di ujung-ujung telor yang ditusuk bambu (sekarang banyak dikantongi platik). Bahkan saya melihat, sebebas apapun mereka berkereasi dalam membuat kembang endog, tetapi tetap menghadirkan bunga mawar sebagai mahkota.
No comments:
Post a Comment