Konon menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, nama "Watu Dodol" itu menceritakan asal muasal batu itu. Watu bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia Batu. Dodol, atau dalam masyarakat Using disebut Jenang. Nama jenang itu, biasanya diikuti jenis bahan bakunya. Misalnya, jenang ketan, karena terbuat dari beras ketan. Jenang Selo dan sebagainya. Nah dari sini, cerita asal usul watu dodol terlihat sekali bukan berasal dari masyrakat lokal. Apalagi pelaku cerita adalah Kyai Semar, tokoh pewayangan. Padahal warga Using (asli Banyuwangi), tidak mengenal tradisi pewayangan.

Keanehan lain, adanya air tawar yang keluar dari bibir pantai di watu dodol. Padahal, di kawasan itu kan air asin semua. Masih menurut cerita tadi, konon air berasal dari bekal minum Kyai Semar yang tumpah. Bagi orang yang percaya (tapi hati-hati ya, nanti bisa syirik) katanya air itu merupakan air kehidupan (Tirto Nadi). Mereka ada yang membawa pulang, dengan berbagai alasan yang dipercayainya sendiri.
Terlepas dari cerita-cerita dibalik watu dodol, yang jelasan kawasan ini menawarkan keindahan alam. Kejernihan air laut, serta parorama batu karang yang bisa dilihat di Gardu Pandang di bukit sebelah kanan jalan. Bahkan seniman Banyuwangi saat itu, pernah mengabadikan kejernihan air laut watu dodol dalam bentuk lagu daerah Banyuwangi berjudul Padang Ulan: Padang Ulan ring pesisir Banyuwangi/Kinclong-kiclong segarane koyo koco/ Lanang wadon tuwek enom suko-suko// .... (Terang bulan di pantai Banyuwangi/Air lautnya berkilauan seperti kaca/Laki perempuan tua muda bersuka-suka) .
Namun sejak banyaknya orang-orang sekitar watu dodol melakukan pengambilan batu karang, maka "kiclong-kiclong" watu dodol tidak seperti yang tergambarkan dalam lagi yang populer tahun 1970-an itu. Bahkan di pantai Kampe, sebelah barat watu dodol, pantainya berlumpur. Batu karangnya habis diambil warga, untuk bahan campuran batu kapur. Padahal, menurut warga setempat, gambaran "kinclong-kinclong" itu dulu bisa dinikmati sejak kawasan Wongsorejo hingga ke Pantai Blimbingsari.
Meski kondisi sekarang tidak seideal seperti dalam lagu "Padang Ulan", setidak kita masih bisa menikmati sisa-sisa "kiclong" laut Banyuwangi di Watudodol. Deburan ombaknya, juga bagus. Apalagi disaksikan dari Gardu Padang yang berada di bukit seberang pantai Watu Dodol. Kawasan ini, juga menjadi wisata andalam Pemkab Banyuwangi. Bisa juga dijadikan tempat istirahat, apabila wisatawan akan ke Bali atau pulang dari Bali.
Dulu saat Bupati Syamsul Hadi berkuasa, pernah merenacakan Kampung Seniman di bukit watu dodol. Bahkan, saat itu sudah diukur kampling yang akan diberikan kepada seniman dengan konpensasi yang sangat murah. Targetnya, kawasan itu akan menjadi kampung seni, seperti Ubud-lah. Mengingat, banyak pelukis dan pembuat keraninan di Bali justru berasal dari Banyuwangi.
tapi sayang skrg jalannya sudah ketutup rumput.
ReplyDeletePdahal Bupatine klemis, sing Brewok. apuwo gok digenengaken Brewon yo Watul Dodol hang salah sijine Icon Banyuwangi..???
ReplyDelete